SEJARAH PENDIDIKAN DI INDONESIA
SEJARAH PENDIDIKAN DI INDONESIA
By : Najmatul Hilal
Sejarah pendidikan merupakan bagian dari pada sejarah kebudayaan umat
manusia, karena mendidik itu berarti pula suatu usaha untuk menyerahkan
alau mewariskan kebudayaan. Dalam hubungan ini pendidikan berarti;
pemindahan isi kebudayaan untuk menyempurnakan segala kecakapan anak
didik guna mcnghadapi persoalan-persoalan dan harapan-harapan
kebudayaannya
Tentu saja tidak semua isi kehudayaan akan kita
wariskan kepada generasi muda, kepada anak-anak kita. Yang akan kita
serahkan atau kita wariskan hanyalah isi-isi kebudayaan yang sesuai
dengan keadaan zaman, tempat dan yang memenuhi hasrat-hasrat manusia
pada zaman itu.
Untuk memajukan pendidikan suatu bangsa maka
kita perlu mempelajari sejarah pendidikan itu sendiri, baik yang
bersifat nasional maupun internasional. Karena dengan mernpelajari
sejarah pendidikan maka kita dapat mengetahui apa yang sudah dikerjakan
oleh pendahulu kita serta hasil yang diperoleh.
A. ZAMAN PURBA
Sebelum nenek moyang kita yang
berasal dari daerah Yunan (Tiongkok) menetap di Indonesia, disini sudah
ada kebudayaan yakni kebudayaan penduduk asli, yang disebut kebudayaan
palaeolitis (palaeos = lama, tua), seperti yang dijumpai pada
orang-orang kubu, Wedda dan Negrito (hal ini tidak banyak diketahui
orang). Kebudayaan Indonesia asli mungkin merupakan campuran antara
kebudayaan Melayu dan kebudayaan Palaeolitis.
Kebudayaan Indonesia
asli (kebudayaan nenek moyang kita ± 1500 sebelum, Masehi) disebut
kebudayaan Neolitis (Neos = baru ). Sisanya masih kita jumpai di
pedalaman Kalimantan dan Sulawesi.
Ciri-cirinya :
1. Kebudayaan ini sebenarnya termasuk kebudayaan maritime
2. Kepercayaannya.
3. Keadaan masyarakatnya
Keadaan
masyarakatnya pada zaman itu adalah masyarakat gotong royong, karena di
dalamnya belum terdapat perbedaan-perbedaan kelas. Pimpinan masyarakat
pada masa itu disebut Ketua Adat.
4. Keadaan Pendidikannya
Pada
zaman ini belum ada pendidikan secara formal. Pendidikan pada masa itu
dilaksanakan hanya dalam lingkungan keluarga (dianggap sudah memenuhi
kebutuhan). Yang menjadi pendidik terutama sekali ayah dan ibu. Ayah
mengajarkan pengetahuan dan kepandaian yang ada padanya, kepada anak
laki-laki dan ibupun berbuat demikian pula kepada anak perempuannya.
Pada
waktu itu ada dua golongan manusia yang mempunyai kecakapan istimewa,
yaitu pandai besi dan dukun, mereka itu begelar Empu.. pandai besii
adalah seorang akhli dalam pengetahuan dunia, sedangkan dukun adalah
akhli dalam pengetahuan maknawiah. Para Empu itu dapat pula disebut
Guru, karena merekalah yang menjadi guru. Umumnya yang berguru padanya
sangat terbatas, terutama anak-anaknya sendiri.
5. Tujuan pendidikannya
Tujuan
pendidikanpada saat itu adalah supaya anak-anaknya itu kelak dapat
memegang kekuasaan dalam masyarakat sebagai manusia yang mempunyai
kecakapan istimewa.
B. ZAMAN PENGARUH HINDU BUDHA
Menurut
teori Van leur ditegaskan pada abad-abad permulaan terjadilah hubungan
perdagangan antara orang-orang Hindu dari India dengan orang-orang
Indonesia. Untuk menjadi pedagang pada masa itu sukar sekali, karena
banyak rintangannya, misalnya ; bajak laut dan banyak lagi resiko
lainnya. Oleh karena itulah hanya Ketua Adat yang dapat menjadi
pedagang, karena dialah yang bermodal besar. Kalau waktu itu orang
berdagang, maka pedagang itu mempunyai sifat-sifat diplomatik. Ia
mencari hubungan diplomatik dengan luar negeri. Hubungan itu penting
sekali artinya bagi kelancaran perdagangan
Orang India
memperkenalkan kebudayaan, bahasa, tulisan, dan agama mereka kepada
nenek moyang kita. Setelah cukup banyak yang beragama Hindu, mulailah
bermunculan pendatang yang antara lain bermaksud menetap. Mereka mulai
memperkenalkan system pemerintahan yang sesuai dengan agama mereka. Maka
berdirilah kerajaan-kerajaan Hindu di Indonesia Mungkin sekali ketua -
ketua adat. dari berbagai suku bangsa kita yang sudah beragama Hindu,
kemudian mengangkat diri sebagai raja-raja secara lokal.
1. Keadaan masyarakatnya
Pada
zaman purba masyarakat Indonesia adalah masyarakat gotong royong, tidak
ada manusia lapisan tinggi. Masyarakat tidak berlapis-lapis. Tetapi
setelah orang Hindu datang masyarakat itu berubah menjadi masyarakat
feodal. Maka timbullah dua golongan manusia yaitu :
a. Golongan yang dijamin
b. Golongan yang menjamin
Di
India terdapat empat kasta, yakni : Kasta Brahmana dan Kasta Ksatria
merupakan kasta yang dijamin, sedangkan Kasta Waisa dan Kasta Syudra
merupakan kasta yang menjamin. Pembagian serupa itu tidak tegas di
Indonesia, tetapi meskipun demikian garis antara yang dijamin dan yang
menjamin itu ada yaitu :
a. Raja dengan pegawai-pegawainya, merupakan orang yang dijamin
b. Rakyat adalah orang yang menjamin
2. Keadaan pendidikannya
Pendidikan formal formal pada zaman hindu yang terjadi di kerajaan-kerajaan Tarumanegara, Kutai sudah berkembang.
a. Materi Pelajaran :
Materi pelajaran yang diberikan adalah agama, membaca, menulis (huruf Palawa) dan bahasa Sansekerta.
Keterampilan
pembuatan candi dan patung-patung mungkin diajarkan pada
lembaga-lembaga pendidikan formal, demikian juga cara-cara bela diri
(ilmu berperang).
b. Tenaga Pendidik/Guru
Yang
mula-mula menjadi guru pada zaman itu adalah kaum Brahmana. Brahmana
menjadi manusia istimewa, mereka menggantikan para Empu di Indonesia.
Para Empu kemudian segera belajar kepada Brahmana. Baru setelah itu
Empu-Empu itu menjadi guru dan mengganti kedudukan Brahmana.
Pada zaman itu guru terbagi menjadi dua macam yaitu :
a) Guru keraton, yaitu golongan yang dijamin
b) Guru pertapa, yaitu mcnginsafi tugasnya
Murid-murid
guru keraton bukan anaknya atau rakyat jelata tetapi keturunan para
Brahmana, anak para bangsawan dan raja (Kasta Ksatrya). Pendidikan masih
terbatas kepada golongan minoritas (kasta Brahmana dan Ksatrya),
pendidikan semacam ini lebih tepat dinamakan perguruan, dimana anak-anak
berguru kepada para cerdik cendekia. Kemudian lembaga seperti ini
dikenal dengan Pesantren, tempat para Cantri (santri).
Pesantren-pesatren banyak benar persesuaiannnya dengan tempat-tempat
pelajaran Hindu di India. Sugarda-purbakawaca 1978, halaman 19,
menyatakan sifat-sifat khusus pesantren adalah : “Sifat keagamaan
semata-mata; penghormatan yang tinggi kepada guru, tidak ada gajih
guru, dan perginya pelajar meminta-minta untuk memperoleh nafkah “.
Menjadi
guru semata-mata karena kewajiban sebagai pandita/Brahmana yang
didasarkan kepada perasaan tutus, mengabdi tanpa parnrih (tanpa
memikirkan imbalan duniawi). Sistem pesantren perguruan ini berkembang
terus baik pada masa Budha maupun waktu berkembangnya agama Islam,
sampai saat sekarang ( pesatren tradisional ).
Guru pertapa
lebih berjiwa kerakyatan. Mereka ingin mendekati rakyat dan tidak
mendekati kraton, bahkan menjauhinya atau bersembunyi di hutan-hutan,
supaya tak berselisih dengan kaum raja. Cita-citanya ialah mengangkat
derajat rakyat jelata, kalau hal ini diketahui raja mereka akan
dimasukkannya kedalam penjara. Peranan guru-guru pertapa itu penting
sekali pada waktu penyebaran agama Islam.
C. ZAMAN KERAJAAN ISLAM
Karena
adanya perdagangan hertarap internasional, maka datanglah ke Indonesia
agama Islam, yaitu sekilar abad ke 13. Banyak pedagang asing yang
rneluaskan wilayah perdagangannya ke Indonesia, selain saudagar Cina,
terdapat sekelompok pedagang yang berasal dari daerah Gujarat, India,
yang mengadakan kontak secara teratur dengan dengan pedagang Indonesia
yang berasal dari Sumatera dan Jawa. Saudagar-saudagar dari Gujarat
tersebut sudah memeluk agama Islam. Disamping berdagang mereka juga
berupaya mengajarkan dan mengembangkan agama Islam di kalangan pribumi
dan masyarakat di lingkungan tempat tinggalnya.
Pada waktu
itu pola kekuasaan berpusat pada suatu kerajaan inti yang berkedudukan
di pedalaman. Kerajaan-kerajaan pesisir hanya merupakan bawahan (Vasal )
dari kerajaan inti, yang banyak berhubungan dengan orang asing justru
kerajaan pesisir. Agama Islam yang dibawa oleh pedagang Gujarat dengan
nilai-nilai budaya baru disambut dengan hangat dan diterima dengan baik
oleh kerajaan pesisir agar kerajaan-kerajaan pesisir tersebut dapat
melepaskan diri dari belenggu kerajaan pedalaman yang masih beragama
Hindu. Faktor-faktor inilah yang mendorong tirnbulnya kerajaan pesisir
yang kuat, seperti Demak (Jawa Tengah), kemudian berangsur-angsur dapat
menggeser kedudukan kerajaan pedalaman, seperti Majapahit yang masih
beragama Hindu. Beralihnya pusat kekuasaan dari pedalaman ke daerah
pantai, penyebaran agama islam lebih berkembang pesat keseluruh
kepulauan Indonesia.
Prasasti adanya agama Islam dapat
ditelusuri sampai tahun 1082 dengan adanya Batu Nisan di Leran dekat
Gresik (jawa Timur) yang menyebutkan meninggalnya seorang wanita
bernarna Fatimah binti Maimun pada tahun 475 Hijriyah (1082 Masehi).
Kerajaan Islam tertua di Indonesia adalah Samudera Pasai yang didirikan
oleh Sultan Malik Al-Saleh, meninggal tahun 1297 Masehi.
Peng
Islaman di daerah bagian utara Sumatera ini agaknya telah lama
berlangsung. Pengembara terkenal dari Venesia (Italia), Marco Polo pada
tahun 1292 M singgah di bagian utara Aceh. Ia menjumpai banyak penduduk
Islam dan mengutarakan pula peranan pedagang-pedagang Gujarat dari
India. Penyebaran agama Islam keseluruh Indonesia dapat terlaksana
melalui pusat-pusat perniagaan di daerah pantai Sumatera Utara dan
melalui urat nadi perdagangan di Malaka, kemudian menyebar ke Pulau Jawa
dan seterusnya ke Indonesia Bagian Timur. Peralihan dari agama dan
kebudayaan Hindu/Budha ke Islam walaupun ada peperangan, pada umumnya
berlangsung secara damai. Ketika agama Islam memasuki Indonesia,
pengaruh ajaran dan cara berfikir Hindu masih kuat dan berakar di
kalangan penduduk. Pada masa itu ada dua tipe guru, yaitu; yang per-tama
guru untuk kalangan keraton dan bangsawan yang diundang atau hidup
dilingkungan keraton untuk mengajar para putera raja dan kesatria
lainnya; dan yang kedua adalah guru pertapa yang menyendiri bertapa di
tempat-tempat jauh dari keramaian sambil belajar, serta mendalami
ilmu-ilmu ke Tuhanan beserta ilmu lain dan muridnya berasal dari
rakyat jelata atau orang kebanyakan. Para penyebar agama Islarn hanyak
menghubungi guru tipe kedua ini sehingga melalui merekalah agama Islam
tersebar luas di Indonesia. Beberapa tokoh penyebar agama Islam di Pulau
Jawa yang paling terkemuka berjumlah sembilan orang, kemudian disebut
Wali Sanga dan diberikan sebutan atau gelar Sunan (berasal dari kata
susuhunan) yang berarti “yang dijunjung tinggi”
1. Perkembangan Pendidikan
Dua
lembaga pendidikan yang memegang peranan penting pada penyebaran agama
Islam di Pulau Jawa adalah langgar dun pesatren. Karena Islam berprinsif
demokrasi, maka pengajarannya merupakan pengajaran rakyat. Tujuannya
memberikan pengetahuan tentang agama, bukan untuk memberikan pengetahuan
umum.
a. Langgar
Pengajaran di Langgar
merupakan pengajaran agama permulaan.yaitu menghafal rukun Iman dan
rukun Islam, belajar tuntunan sholat dan belajar “ membaca Alquran.
Pelajaran agarna di langgar dimulai dengan membaca alquran. Mula-mula
murid mempelajari abjad Arab, kemudian mengeja ayat-ayat Qur’an pertama
dengan irama suara tertentu.
Pelajaran diberikan dengan
sistem sekepala. Guru menyebutkan sesuatu dan murid menirunya. Yang
dicita-citakan ialah dapat membaca Qur’an sampai tamat. Lamanya belajar
tidak tentu; biasanya berlangsung kurang lebih satu tahun, tetapi
kadang-kadang hanya diikuti selama beberapa bulan saja. Biasanya
pelajaran diberikan pada pagi hari dan malam hari, berlangsung kira-kira
dua jam lamanya.
Yang menjadi gurunya adalah seseorang yang
sudah memiliki pengetahuan agama yang agak mendalam. Guru itu tetap
dipandang sebagai seorang yang sakti. Murid-murid tidak boleh mengecam
guru, mengecam guru dianggap berdosa.
Uang sekolah tidak
dipungut, tergantung kepada kerelaan orang tua murid, boleh memberikan
tanda mata berupa benda atau uang. Bahkan bagi orang tua yang miskin,
anaknya dapat mengikuti pelajaran tanpa membayar. Bila seorang murid
sudah menamatkan pelajarannya, dalam arti sudah dapat rnembaca Qur’an
sampai tamat, maka diadakanlah selamatan, khataman namanya. dengan
mengundang makan teman-temannya atau kerabat dekat di rurnah guru atau
Langgar. Pada kesempatan ini murid yang telah khatam, mendemontrasikan
kemampuannya membaca Alquran di depan para undangan dan murid (santri)
yang belajar di langgar, berasal dari anak-anak maupun orang tua yang
berada disekitar Langgar atau tetangga desa. Hubungan antara guru dan
murid pada umumnya tetap berlangsung walaupun murid kemudian meneruskan
pendidikan pada lembaga yang lebih tinggi di Madrasah atau Pesantren di
desanya atau desa lain.
Sebagai lembaga sosial Langgar itu
penting artinya. Anak-anak rakyat lambat laun menyadari menjadi anggota
persekutuan besar, yakni persekutuan umat Islam.
b. Pesatren
Pengajaran
yang lebih lanjut dan lebih mendalam diberikan di pesantren. lembaga
pendidikan ini sebenarnya sudah ada sejak zaman Hindu Budha, kemudian
dilanjutkan oleh para wali dan ulama Islam. Jadi pendidikan yang
dilaksanakan oleh para wali mempergunakan cara-cara yang oleh para
pandita Hindu telah dilaksanakan. Para Kiai (ulama Islam), didatangi
oleh para murid/santri, biasanya para pemuda untuk berguru kepadanya.
Para wali mempergunakan pula cara-cara yang telah dilakukan oleh para
pandita dalam pesantren-pesantren. Para wali mempergunakan media yang
sudah dikenai masyarakat sebelumnya, jadi ceritera Ramayana dan
Mahabarata dalam berrtuk wayang untuk menyampaikan pelajarannya.
Perbedaan
dalarn pelajaran pada pesantren Islam dengan pesantren Hindu dan Budha
ialah dalam bahan pelajaran agama. Pesantren Islam mengajarkan agama
Islam. Salah satu perbedaan lain, agama Islam lebih bersifat dernakratis
karena tidak membeda-bedakan asal keturunan. Semua berhak dan bahkan
wajib belajar agama agar menjadi manusia yang taqwa kepada Tuhan.
Sedangkan pengajaran Hindu bersifat aristokratis. Artinya hanya sebagian
dari anggota masyarakat, yaitu kasta Brahmana dan Kesatrya yang
mendapat pendidikan.
Pada zaman Islam pendidikan merupakan
suatu tuntutan agar semua muslim mendapatkan pengajaran. oleh sebab
itulah maka pendidikan diselenggarakan di langgar-langgar, mesjid, surau
(Minangkabau ) atau dl rangkang (Aceh). Pendidikan diselenggarakan
secara amat sederhana yang merupakan pendidikan pendahuluan.
Di
pesantren, murid-muridnya dinamakan santri, pada umumnya terdiri dari
anak-anak yang lebih tua dan telah memiliki pengetahuan dasar yang
mereka peroleh di langgar atau mesjid. Para santri yang biasanya berasal
dari berbagai tempat, dikumpulkan dalam suatu ruangan yang disebut
pondok (semacarn asrama). Mereka bergaul dengan suasana keagarnaan,
saling tolong menolong bergotong royong dan kadang-kadang membantu
menyelesaikan pekerjaan gurunya. Berdekatan dengan pondok berada mesjid
dan rumah guru. Guru biasanya disebut ajengan atau kiyai.
Mata
pelajaran yang diberikan di pesantren adalah ; (1) Ilmu Usuluddin yang
membahas pokok-pokok ajaran kepercayaan, (2) Usul Fidh (alat penggali
hukum dari Alquran dan Hadist), (3) Fiqh (cabang dari Usuluddin), (4)
membaca dan menulis Arab.
Pesantren tidak rnemiliki kurikulum
yang tertulis. Hal ini sangat ditentukan oleh kiyai yang memimpin
pesantren tersebut. Jadi tidak ada tingkatan dalam pesantren, sehingga
kita sulit menentukan apakah pesantren rendah, menengah atau tinggi,
seperti disebutkan di atas sebagian besar mata pelajaran yang diberikan
adalah agarna Islam. Tidak diberikan ilmu pengetahuan umum. Ini suatu
kieanehan dalam pendidikan Islam, karena di Negara Arab sendiri antara
pelajaran ilmu pengetahuan dan agama ada keseimbangan. Jadi rupanya
pengaruh agama Hindu sangat besar sekali terhadap pesantren Islam.
Pengaruh ini terlihat pula pada penghormatan terhadap guru yang sangat
besar. Sehingga apa yang dikatakan oleh guru dianggap sebagai sesuatu
kebenaran yang tidak boleh dibantah
Lamanya belajar di
pesantren setiap santri tidak tentu, ada yang setahun tetapi ada juga
yang sampai sepuluh tahun atau lebih, tergantung kepada kecepatan santri
dalarn menerima pelajarannya.
Kegiatan santri di pesantren
setiap harinya adalah sebagai berikut : Jam 04.00 mereka bangun kemudian
sembayang subuh setelah selesai sembahyangi; mereka mulai belajar,
kemudian bekerja membantu kiyai, misalnya; membersihkan halaman,
berkebun, bekerja di sawah, dan sebagainya. Setelah itu sembahyang
dhuhur dan makan siang. Sesudah makan siang semua beristirahat,
kemudian dimulai lagi dengan pelajaran, dan diselingi dengan menghafal.
Setelah sembahyang magrib atau isya dimulai lagi dengan pelajaran.
Kepada santri yang telah dipandang tinggi tingkatan pelajarannya
diberikan pelajaran dari berbagai kitab dengan sistim klasikal. Jam
21.00 mereka tidur. Piket malam biasanya mereka lakukan secara
bergantian.
D. ZAMAN PENGARUH PORTUGIS DAN SPANYOL
Karena
berkembangnya perdagangan, maka pada permulaan abad ke 16 datanglah ke
Indonesia bangsa Eropah pertama yaitu bangsa Portugis, kemudian disusul
oleh bangsa Spanyol. Waktu orang-orang Portugis datang ke Indonesia,
selain untuk berdagang, mereka dibarengi oleh missionaries yang bertugas
untuk menyebarkan agama Nasrani (Katolik) dikalangan penduduk
Indonesia.
Salah seorang yang dianggap sebagai peletak batu
pertama dari agama Katolik di Indonesia adalah Franciscus Xaverius
berpendapat bahwa untuk mernperluas penyebaran agama Nasrani itu perlu
sekali didirikan sekolah-sekolah. Pada tahun 1536 didirikanlah sebuah.
Seminare di Ternate, yaitu sekolah agama Katolik bagi anak-anak orang
terkemuka, selain pelajaran agama, diberikan juga, pelajaran membaca,
menulis dan berhitung).
Di Solor juga didirikan semacam
Seminare dengan jumlah jurnlah muridnya pada waktu itu sekitar 50 orang,
di sekolah itu di ajarkan juga bahasa latin. Pendidikan yang lebih
tinggi diberikan di Goa, pusat kekuasaan Portugis di Asia. Pemuda
pemuda Indonesia yang cakap dikirimkan kesana untuk mendapatkan
pendidikan. Kelak mereka dijadikan pembantu-pembantu Paderi
Pada
tahun 1546 di Ambon sudah ada tujuh kampung yang penduduknya memeluk
agama Katolik. Disana diselenggarakan pula pengajaran untuk rakyat yang
bersifat umum.
Karena sering timbul
pemberontakan-pemberontakan, terutama dari Sultan Ternate dan juga
banyak peperangan yang harus dihadapi dengan orang-orang Spanyol,
Inggeris dan Belanda, maka pada ahir abad ke 16 habislah kekuasaan
Portugis di Indonesia. Ini berarti pula habisnya riwayat missi Katolik
di daerah Maluku. Missi ini adalah missi Negara, artinya para
missionaris mendapat jaminan hidup dari Negara. Sehingga jatuhnya
Negara, mengakibatkan hilang nya tenaga missi itu, dengan demikian
usaha-usaha pendidikan terpaksa harus dihentikan.
E. ZAMAN PENGARUH BELANDA
1. Zaman VOC ( Kompeni ) 1602 – 1799
Dengan
berahirnya kekuasaan Portugis, maka timbullah kekuasaan baru, yaitu
kekuasaan Belanda. Bangsa Belanda lah yang berhasil mengusir orang-orang
Portugis dari Indonesia. Tujuan orang Belanda datang ke Indonesia
mulanya untuk perdagangan saja. Kemudian mereka memutuskan untuk
menyaingi orang Portugis yang menyebarkan agama katolik, di Maluku dan
Nusa Tenggara. Bahkan dikabarkan bahwa orang Spanyol dan Portugis sudah
mendirikan sekolah guru di Ternate, sekolah guru ini konon sekolah guru
yang tertua di Asia (1536). Orang Belanda yang telah bersatu dalam badan
perdagangan VOC, menganggap perlu menggantikan agama Katolik yang telah
disebarkan orang Portugis itu dengan agamanya yaitu agama Protestan.
adalah badan milik orang Belanda, yang memejuk agama Protestan)
Untuk
menyebarkan agama (Protestan tersebut maka pada tahun 1617 VOC
mendirikan sekolah. Sekolah itu pertama-tama ditujukan untuk mereka yang
telah beragama Kristen (Protestan). Sekolah-sekolah itu terdapat di
Ambon, Ternate, Menado, Jakarta (Batavia), Bawean, Timor, Maluku dan
Nusa Tenggara Timur. Di Pulau Jawa sekolah-sekolah hanya terbatas di
kota dan pantai untuk menampung pegawai VOC yang beragama Kristen.
Hubungan antara kompeni dengan rakyat di Pulau jawa tidak serapat di
Maluku, karena : (1). Rakyat di Pulau Jawa sedikit sekali menghasilkan
rempah-rempah untuk keperluan pasar dunia, (2) Rakyat di Pulau Jawa
tidak terkena pengaruh Portugis. Agama Katolik tidak masuk ke Pulau
Jawa, karena, dua alasan itu lah sehingga di Pulau Jawa tidak ada
susunan persekolahan dan gereja yang seluas di Maluku. Kalau ada juga
pemeluk-pemeluk agama Nasrani, hanya dijumpai pada beberapa kota
pelabuhan saja. Yang terbanyak pemeluknya di Batavia (Jakarta).
Setelah kerajaan Belanda mengahiri wewenang VOC sebagai wakil mahkota dan pemerintahannya di Nusantara (Hindia Timur).
2. Periode 1801 - 1900
Sejak
pertengahan abad ke 19 liberalisme dan aufklarung dari Eropah telah
mempengaruhi politik Belanda di Indonesia. Gubernur Jenderal Daendels,
meminta agar diselenggarakan pengajaran untuk memperkenalkan kesusilaan,
adat istiadat, hukum dan agama kepada orang jawa. Kemudian pada tahun
1848 barulah dimulai anggaran pendidikan sebanyak f 25.000,- untuk semua
orang-orang Indonesia.
Sambil mengijinkan sekolah swasta,
pemerintah mendirikan sekolah rendah, kelas dua selama 5 tahun untuk
rakyat dengan pelajaran terbatas seperti : Bahasa Melayu, Bahasa Ibu,
Berhitung, Menulis, Ilmu Bumi, Pengukuran Tanah dan Latihan Kerja
Kantor. Bentuk baru dalam lapangan pengajaran terjadi pada pemerintahan
Daedels menaruh perhatian pada pengajaran rakyat hal ini dapat
dibuktikan seperti :
a. Pada tahun 1808 ia memberi perintah
pada bupati-bupati di Pulau Jawa agar pengajaran tersebar di kalangan
rakyat dan iiap-tiap distrik mempunyai sekolah. Perintah ini tak sempat
dijalankan, karena 3 tahun kemudian pemerintah jatuh ketangan orang
Inggeris. Meskipun demikian perintah itu mempunyai arti yang penting.
Dengan adanya perintah itu, pemerintah untuk pertama kali mengakui, "
bahwa sudah menjadi tugasnya untuk memberikan pengajaran pada rakyat.
Jadi pengajaran itu tidak hanya terbatas pada kelompok-kelompok tertentu
saja, seperti kepada orang Eropah dan orang Indonesia yang memeluk
agama Nasrani.
b. Tahun 1809 untuk perlama kali
diselenggarakan pendidikan Bidan, yang rnerupakan bagian dari pada usaha
pemeliharaan kesehatan rakyat. Yang menjadi gurunya adalah para dokter
yang berada di Batavia. Bahasa pengantarnya adalah bahasa Melayu
c.
Sebagai usahanya untuk " memajukan tari-tarian rakyat " dan untuk
menjauhkan bangsa Indonesia dari semangat kepahlawanan, maka pada tahun
1809 di Cerebon didirikan sekolah Ronggeng. Sekolah itu mcnjadi
tanggungan Sultan. Di sekolah itu dididik, terutama sekali anak-anak
perempuan yang tak mampu dan usianya belum 12 tahun. Uang sekolah tidak
dipungut, kecuali bagi anak-anak orang kaya. Lamanya belajar 4 tahun.
Yang diajarkan selain menari dan menyanyi, juga membaca dan menulis.
Pada hakekatnya sekolah itu lebih merupakan usaha untuk mer~demoral
isasikan pemuda-pemuda Indonesia.
3. Masa sesudah 1900 sampai berakhirnya pemerintahan Belanda
Sejak
akhir abad ke 19 di Nederland ikut berkembang ide demokratis yang
menghendaki perluasan pendidikan dan atau pemberian subsidi pada
perguruan swasta yang sudah ada. Muhammadiyah yang tak pernah meminta
subsidi akhirnya juga diberi dana subsidi
Menteri Pengajaran
dan Agama yang tadinya berupaya seorang diri meluaskan Pengajaran bahasa
belanda dan pendidikan wanita kembali ikut mendapat semangat baru. RA.
Kartini dan orang Belanda, banyak yang mulai melihat bahwa sekolah
kejuruan dapat memajukan kesejahtraan sosial. Maka pemerintah telah
mengadakan dua macam pendidikan dasar yaitu:
a. Sekolah standar untuk bumi putera, yakni sekolah kelas dua
b. Sekolah desa (3 tahun) untuk rakyat
Selain
itu pada tahun 1914 juga didirikan sekolah dasar HIS sebagai bentuk
sekolah kelas satu untuk bumi putera. Kebanyakannya dari semua itu
adalah politik balas budi Belanda kepada negeri jajahannya. Tetapi
efeknya terhadap perluasan pendidikan belum ada hubungannya dengan
nasionalisme, karena yang memanfaatkannya terutama hanya lapisan atas
bangsa kita.
F. ZAMAN KEMERDEKAAN
Proklamasi Kemerdekaan menimbulkan
hidup baru disegala lapangan termasuk Iapangan pendidikan. Sebagai modal
dan peduman pertarna bagi rakyat dan pemerintah di bidang pendidikan
dipergunakanlah " Rencana Usaha Pendidikan Pengajaran " yang telah
dipersiapkan pada hari-hari terakhir penjajahan Jepang itu. Dengan
segera Menteri PP dan K yang pertama Ki Hajar Dewantara mengeluarkan
instruksi umum yang memerintahkan kepada semua kapala sekolah dan
guru-guru :
1. Mengibarkan Sang Merah Putih tiap-tiap hari dihalaman sekolah
2. Melagukan lagu kebangsaan " Indonesia Raya "
3. Menghentikan Pengibaran Bendera Jepang dan rnenghapuskan “Kimigajo” (lagu kebangsaan Jepang)
4. Menghapuskan pelajaran bahasa Jepang, serta segala upacara yang berasal dari pemerintahan Balatentara Jepang
5. Memberi semangat kebangsaan kepada semua murid-murid
Selain
"Rencana usaha pendidikan/pengajaran " dan " Intruksi Umum " dari
Menteri PP dan K yang pertama, Pemerintah dan rakyat mempergunakan juga
UUD 1945 sebagai pedoman di lapangan pendidikan.
Menjelang
lahirnya Undang-Undang Pokok Pendidikan dan Pengajaran, maka pada tahun
1946 Menteri PP dan K (Mr. Soewandi) membentuk “ Panitia Penyelidik
Pendidikan dan Pengajaran” yang diketuai oleh Ki Hajar Dewantara.
Pada
tanggal 4 s/d 7 Maret 1947 di Solo diadakan " Kongres Pendidikan
Indonesia ". Dibawah pimpinan Prof. Sunarya Kalapaking dengan rnaksud
meninjau kembali berbagai masalah pendidikan/pengajaran.
Pada
tahun 1948 Menteri PP dan K (Mr. Ali Sastroamidjojo) rnembentuk
"Panitia Pembentukan Rencana Undang-Undang Pokok Pendidikan dan
Pengajaran" yang diketuai oleh Ki Hajar Dewantara, yang diberi tugas
untuk menyusun Rencana Undang-Undang Pokok Pendidikan dan Pengajaran di
sekolah.
Pada tahun 1949 diadakan Kongres Pendidikan yang
kedua di Jogyakarta. Masalah-masalah yang harus mendapatkan pemecahan
berarti ia terutama sekali mengenai dasardasar Pendidikan, hubungan
antara pendidikan dan kebudayaan, dll
Pada Tahun 1950
lahirlah Undang-Undang tentang Dasar-Dasar Pendidikan dan Pengajaran di
SekoIah untuk seluruh Indonesia, yaitu Undang-Undang No 4 tahun 1950
dengan nama Undang-Undang tentang Dasar-Dasar Pendidikan dan Pengajaran
di Sekolah selanjutnya disingkat menjadi UUPP, yang berisi 17 bab dan 30
pasal. Pasal 3 tentang tujuan pendidikan dan pengajaran berbunyi
demikian : " Tujuan pendidikan dan pengajaran ialah membentu manusia
susila yang cakap dan warga negara yang demokratis serta bertanggung
jawab tentang kesejahteraan masyarakat dan tanah air. Sedangkan Bab III,
Pasal 4, " Tentang Dasar-Dasar Pendidikan dan Pengajaran " berbunyi sbb
: Pendidikan dari pengajaran berdasarkan atas azas-azas yang termaktub
dalam " Pancasila " Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia dan
atas tebudayaan kebangsaan Indonesia.
Dari kedua pasal
tersebut jelaslah tugas apa yang diletakkan di atas bahu kaum guru,
sebagai pendidik nasional. Kedua pasal itu menegaskan, harus kemana kita
membawa anak-anak Indonesia itu dan berdasarkan apa pendidikan dan
pengajaran harus kita berikan di Indonesia pada zaman kemerdekaan ini.
Kebijakan Link and Match :
Untuk
mendukung program pembangunan dibidang Pendidikan dikembangkan
kebijakan link and match yaitu konsep keterkaitan dan kepadanan yang
dijadikan strategi operasional dalam meningkatkan relevansi Pendidikan.
Arti kansep ini adalah (Link and Match, 1993 :
l. Link : berarti pendidikan memiliki kaitan fungsional dengan kebutuhan pasar.
2. Match : berarti lulusan yang mampu memenuhi tuntutan para pemakai baik jenis, jumlah maupun mutu yang dipersyaratkan.
Disamping
kebijakan di atas, inovasi-inovasi penciidikan juga sudah dilaksanakan,
untuk mencapai sasaran pendidikan yang dinginkan. Ternyata
inovasi-inovasi itu gagal karena hanya mengejar target kuantitatif atau
pemerataan pendidikan saja, disamping karena heterogenitas budaya dan
luasnya Negara Indonesia. Oleh karena itu (Tilaar, 1996) mengharapakan,
inovasi pendidikan bersumber dari hasil-hasil penelitian di Indonesia.
Sernentara itu Alisyahbana (1990) rnengemukakan ada 3 macam pesimisme dikalangan para ahli pendidikan, yaitu :
a. Pemerintah seolah-olah belum memiliki political will yang kuat untuk memperbaiki pendidikan.
b.
Orang Indonesia memiliki budaya begitu lamban melakukan
transformasi social, yang sangat perlu untuk mengadakan adaptasi
terhadap dunia yang berubah dengan cepat
c. Seolah-olah
sulit rnuncul tokoh pcrnikir yang berani mcnyusun dan memperjuangkan
konsep-konsep yang bertalian dengan pendidikan nasional yang mungkin
tidak sejalan dengan keinginan pai-a birokrat yang berkuasa.
Masalah lain yang tertulis dalam Deklarasi Konvensi Nasional Pendidikan 11 Tahun 1992 mengatakan :
1.
Realisasi tanggung jawab bersama antara keluarga, masyarakat dan
pemerintah belum terwujud secara menyeluruh dan bahkan belum dihayati
sepenuhnya oleh semua pihak.
2. Diperlukan political will dan dukungan biaya yang memadai untuk pendidikan daerah terpencil
3. Penanaman nilai-nilai budaya maupun agama tidak cukup melalui bidang studi saja.
Salah satu dampak dari hasil pembangunan yang tidak seimbang, adalah :
¨ Munculnya kenakalan dan perkelahian anak-anak muda disana sini
¨ Maraknya kolusi diberbagai kalangan, ditulis Baharuddin Lopa (1996)
¨
Tingginya tingkat korupsi menurut laporan Fortune tentang korupsi
di Asia dan survey internasional TIN (Jawa Post 14-8 1985 dan
10-2-1996).
Namun bukan berarti pembangunan Indonesia sudah gagal, masih ada segi-segi keberhasilan pembangunan yang menonjol, seperti :
a. Kesadaran rnasyarakat tentang pentingnya melaksanakarn ajaran agama sudah meningkat dengan pesat
b. Persatuan dan kesatuan bangsa masih terkendali
G. MASA REFORMASI
Pada
masa reformasi, sistem pendidikan mulai berubah, yang didahului oleh
perubahan Undang-Undang Pendidikan. UU ini menginginkan sistem
pendidikan sentralisasi berubah menjadi desentralisasi.
Instrumen-instrumen untuk mewujudkan desentralisasi pendidikan yaitu MBS
(Manajemen Berbasis Sekolah), Life Skills (lima keterampilan hidup) dan
TQM (Total Quality Management). Pemerintah juga menciptakan
kelompok-kelompok masyarakat yang independen untuk membantu pendidikan
agar mampu mandiri seperti Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah.
Di
samping itu pemerintah juga mengubah istilah pendidikan sekolah dan
pendidikan luar sekolah menjadi pendidikan jalur formal, nonformal dan
informal. Pendidikan nonformal sangat berperan dalam mengembangkan
keterampilan warga belajar untuk mampu bekerja di masyarakat sedangkan
pendidikan informal di masyarakat dan dalam keluarga sangat berperan
dalam mengembangkan afeksi atau kepribadian, sikap,moral dan mental
anak-anak.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar