Minggu, 28 April 2013

SEJARAH PENDIDIKAN DI INDONESIA

SEJARAH PENDIDIKAN DI INDONESIA

By : Najmatul Hilal

 

 

       Sejarah pendidikan merupakan bagian dari pada sejarah kebudayaan umat­ manusia, karena mendidik itu berarti pula suatu usaha untuk menyerahkan alau mewariskan kebudayaan. Dalam hubungan ini pendidikan berarti; pemindahan isi kebudayaan untuk menyempurnakan segala kecakapan anak didik guna mcnghadapi persoalan-persoalan dan harapan-harapan kebudayaannya
       Tentu saja tidak semua isi kehudayaan akan kita wariskan kepada generasi muda, kepada anak-anak kita. Yang akan kita serahkan atau kita wariskan hanyalah isi-isi kebudayaan yang sesuai dengan keadaan zaman, tempat dan yang memenuhi hasrat-hasrat manusia pada zaman itu.
       Untuk memajukan pendidikan suatu bangsa maka kita perlu mempelajari sejarah pendidikan itu sendiri, baik yang bersifat nasional maupun internasional. Karena dengan mernpelajari sejarah pendidikan maka kita dapat mengetahui apa yang sudah dikerjakan oleh pendahulu kita serta hasil yang diperoleh.

 

A. ZAMAN PURBA


       Sebelum nenek moyang kita yang berasal dari daerah Yunan (Tiongkok) menetap di Indonesia, disini sudah ada kebudayaan yakni kebudayaan penduduk asli, yang disebut kebudayaan palaeolitis (palaeos = lama, tua), seperti yang dijumpai pada orang-orang kubu, Wedda dan Negrito (hal ini tidak banyak diketahui orang). Kebudayaan Indonesia asli mungkin merupakan campuran antara kebudayaan Melayu dan kebudayaan Palaeolitis.
Kebudayaan Indonesia asli (kebudayaan nenek moyang kita ± 1500 sebelum, Masehi) disebut kebudayaan Neolitis (Neos = baru ). Sisanya masih kita jumpai di pedalaman Kalimantan dan Sulawesi.
Ciri-cirinya :
1. Kebudayaan ini sebenarnya termasuk kebudayaan maritime
2. Kepercayaannya.
3. Keadaan masyarakatnya
     Keadaan masyarakatnya pada zaman itu adalah masyarakat gotong royong, karena di dalamnya belum terdapat perbedaan-perbedaan kelas. Pimpinan masyarakat pada masa itu disebut Ketua Adat.
4. Keadaan Pendidikannya
     Pada zaman ini belum ada pendidikan secara formal. Pendidikan pada masa itu dilaksanakan hanya dalam lingkungan keluarga (dianggap sudah memenuhi kebutuhan). Yang menjadi pendidik terutama sekali ayah dan ibu. Ayah mengajarkan pengetahuan dan kepandaian yang ada padanya, kepada anak laki-laki dan ibupun berbuat demikian pula kepada anak perempuannya.
     Pada waktu itu ada dua golongan manusia yang mempunyai kecakapan istimewa, yaitu pandai besi dan dukun, mereka itu begelar Empu.. pandai besii adalah seorang akhli dalam pengetahuan dunia, sedangkan dukun adalah akhli dalam pengetahuan maknawiah. Para Empu itu dapat pula disebut Guru, karena merekalah yang menjadi guru. Umumnya yang berguru padanya sangat terbatas, terutama anak-anaknya sendiri.
5. Tujuan pendidikannya
    Tujuan pendidikanpada saat itu adalah supaya anak-anaknya itu kelak dapat memegang kekuasaan dalam masyarakat sebagai manusia yang mempunyai kecakapan istimewa.



B. ZAMAN PENGARUH HINDU BUDHA


Menurut teori Van leur ditegaskan pada abad-abad permulaan terjadilah hubungan perdagangan antara orang-orang Hindu dari India dengan orang-orang Indonesia. Untuk menjadi pedagang pada masa itu sukar sekali, karena banyak rintangannya, misalnya ; bajak laut dan banyak lagi resiko lainnya. Oleh karena itulah hanya Ketua Adat yang dapat menjadi pedagang, karena dialah yang bermodal besar. Kalau waktu itu orang berdagang, maka pedagang itu mempunyai sifat-sifat diplomatik. Ia mencari hubungan diplomatik dengan luar negeri. Hubungan itu penting sekali artinya bagi kelancaran perdagangan


Orang India memperkenalkan kebudayaan, bahasa, tulisan, dan agama mereka kepada nenek moyang kita. Setelah cukup banyak yang beragama Hindu, mulailah bermunculan pendatang yang antara lain bermaksud menetap. Mereka mulai memperkenalkan system pemerintahan yang sesuai dengan agama mereka. Maka berdirilah kerajaan-kerajaan Hindu di Indonesia Mungkin sekali ketua - ketua adat. dari berbagai suku bangsa kita yang sudah beragama Hindu, kemudian mengangkat diri sebagai raja-raja secara lokal.


1. Keadaan masyarakatnya

Pada zaman purba masyarakat Indonesia adalah masyarakat gotong royong, tidak ada manusia lapisan tinggi. Masyarakat tidak berlapis-lapis. Tetapi setelah orang Hindu datang masyarakat itu berubah menjadi masyarakat feodal. Maka timbullah dua golongan manusia yaitu :
a. Golongan yang dijamin
b. Golongan yang menjamin

Di India terdapat empat kasta, yakni : Kasta Brahmana dan Kasta Ksatria merupakan kasta yang dijamin, sedangkan Kasta Waisa dan Kasta Syudra merupakan kasta yang menjamin. Pembagian serupa itu tidak tegas di Indonesia, tetapi meskipun demikian garis antara yang dijamin dan yang menjamin itu ada yaitu :
a. Raja dengan pegawai-pegawainya, merupakan orang yang dijamin
b. Rakyat adalah orang yang menjamin


2. Keadaan pendidikannya

Pendidikan formal formal pada zaman hindu yang terjadi di kerajaan-kerajaan Tarumanegara, Kutai sudah berkembang.
a. Materi Pelajaran :
Materi pelajaran yang diberikan adalah agama, membaca, menulis (huruf Palawa) dan bahasa Sansekerta.
Keterampilan pembuatan candi dan patung-patung mungkin diajarkan pada lembaga-lembaga pendidikan formal, demikian juga cara-cara bela diri (ilmu berperang).


b. Tenaga Pendidik/Guru
Yang mula-mula menjadi guru pada zaman itu adalah kaum Brahmana. Brahmana menjadi manusia istimewa, mereka menggantikan para Empu di Indonesia. Para Empu kemudian segera belajar kepada Brahmana. Baru setelah itu Empu-Empu itu menjadi guru dan mengganti kedudukan Brahmana.


Pada zaman itu guru terbagi menjadi dua macam yaitu :
a) Guru keraton, yaitu golongan yang dijamin
b) Guru pertapa, yaitu mcnginsafi tugasnya


Murid-murid guru keraton bukan anaknya atau rakyat jelata tetapi keturunan para Brahmana, anak para bangsawan dan raja (Kasta Ksatrya). Pendidikan masih terbatas kepada golongan minoritas (kasta Brahmana dan Ksatrya), pendidikan semacam ini lebih tepat dinamakan perguruan, dimana anak-anak berguru kepada para cerdik cendekia. Kemudian lembaga seperti ini dikenal dengan Pesantren, tempat para Cantri (santri). Pesantren-pesatren banyak benar persesuaiannnya dengan tempat-tempat pelajaran Hindu di India. Sugarda-purbakawaca 1978, halaman 19, menyatakan sifat-sifat khusus pesantren adalah : “Sifat keagamaan semata-mata; penghormatan yang tinggi kepada guru, tidak ada gajih guru, dan perginya pelajar meminta-minta untuk memperoleh nafkah “.


Menjadi guru semata-mata karena kewajiban sebagai pandita/Brahmana yang didasarkan kepada perasaan tutus, mengabdi tanpa parnrih (tanpa memikirkan imbalan duniawi). Sistem pesantren perguruan ini berkembang terus baik pada masa Budha maupun waktu berkembangnya agama Islam, sampai saat sekarang ( pesatren tradisional ).


Guru pertapa lebih berjiwa kerakyatan. Mereka ingin mendekati rakyat dan tidak mendekati kraton, bahkan menjauhinya atau bersembunyi di hutan-hutan, supaya tak berselisih dengan kaum raja. Cita-citanya ialah mengangkat derajat rakyat jelata, kalau hal ini diketahui raja mereka akan dimasukkannya kedalam penjara. Peranan guru-guru pertapa itu penting sekali pada waktu penyebaran agama Islam.



C. ZAMAN KERAJAAN ISLAM


Karena adanya perdagangan hertarap internasional, maka datanglah ke Indonesia agama Islam, yaitu sekilar abad ke 13. Banyak pedagang asing yang rneluaskan wilayah perdagangannya ke Indonesia, selain saudagar Cina, terdapat sekelompok pedagang yang berasal dari daerah Gujarat, India, yang mengadakan kontak secara teratur dengan dengan pedagang Indonesia yang berasal dari Sumatera dan Jawa. Saudagar-saudagar dari Gujarat tersebut sudah memeluk agama Islam. Disamping berdagang mereka juga berupaya mengajarkan dan mengembangkan agama Islam di kalangan pribumi dan masyarakat di lingkungan tempat tinggalnya.


Pada waktu itu pola kekuasaan berpusat pada suatu kerajaan inti yang berkedudukan di pedalaman. Kerajaan-kerajaan pesisir hanya merupakan bawahan (Vasal ) dari kerajaan inti, yang banyak berhubungan dengan orang asing justru kerajaan pesisir. Agama Islam yang dibawa oleh pedagang Gujarat dengan nilai-nilai budaya baru disambut dengan hangat dan diterima dengan baik oleh kerajaan pesisir agar kerajaan-kerajaan pesisir tersebut dapat melepaskan diri dari belenggu kerajaan pedalaman yang masih beragama Hindu. Faktor-faktor inilah yang mendorong tirnbulnya kerajaan pesisir yang kuat, seperti Demak (Jawa Tengah), kemudian berangsur-angsur dapat menggeser kedudukan kerajaan pedalaman, seperti Majapahit yang masih beragama Hindu. Beralihnya pusat kekuasaan dari pedalaman ke daerah pantai, penyebaran agama islam lebih berkembang pesat keseluruh kepulauan Indonesia.


Prasasti adanya agama Islam dapat ditelusuri sampai tahun 1082 dengan adanya Batu Nisan di Leran dekat Gresik (jawa Timur) yang menyebutkan meninggalnya seorang wanita bernarna Fatimah binti Maimun pada tahun 475 Hijriyah (1082 Masehi). Kerajaan Islam tertua di Indonesia adalah Samudera Pasai yang didirikan oleh Sultan Malik Al-Saleh, meninggal tahun 1297 Masehi.


Peng Islaman di daerah bagian utara Sumatera ini agaknya telah lama berlangsung. Pengembara terkenal dari Venesia (Italia), Marco Polo pada tahun 1292 M singgah di bagian utara Aceh. Ia menjumpai banyak penduduk Islam dan mengutarakan pula peranan pedagang-pedagang Gujarat dari India. Penyebaran agama Islam keseluruh Indonesia dapat terlaksana melalui pusat-pusat perniagaan di daerah pantai Sumatera Utara dan melalui urat nadi perdagangan di Malaka, kemudian menyebar ke Pulau Jawa dan seterusnya ke Indonesia Bagian Timur. Peralihan dari agama dan kebudayaan Hindu/Budha ke Islam walaupun ada peperangan, pada umumnya berlangsung secara damai. Ketika agama Islam memasuki Indonesia, pengaruh ajaran dan cara berfikir Hindu masih kuat dan berakar di kalangan penduduk. Pada masa itu ada dua tipe guru, yaitu; yang per-tama guru untuk kalangan keraton dan bangsawan yang diundang atau hidup dilingkungan keraton untuk mengajar para putera raja dan kesatria lainnya; dan yang kedua adalah guru pertapa yang menyendiri bertapa di tempat-tempat jauh dari keramaian sambil belajar, serta mendalami ilmu-ilmu ke Tuhanan beserta ilmu lain dan muridnya berasal dari rakyat jelata atau orang kebanyakan. Para penyebar agama Islarn hanyak menghubungi guru tipe kedua ini sehingga melalui merekalah agama Islam tersebar luas di Indonesia. Beberapa tokoh penyebar agama Islam di Pulau Jawa yang paling terkemuka berjumlah sembilan orang, kemudian disebut Wali Sanga dan diberikan sebutan atau gelar Sunan (berasal dari kata susuhunan) yang berarti “yang dijunjung tinggi”


1. Perkembangan Pendidikan

Dua lembaga pendidikan yang memegang peranan penting pada penyebaran agama Islam di Pulau Jawa adalah langgar dun pesatren. Karena Islam berprinsif demokrasi, maka pengajarannya merupakan pengajaran rakyat. Tujuannya memberikan pengetahuan tentang agama, bukan untuk memberikan pengetahuan umum.
a. Langgar

Pengajaran di Langgar merupakan pengajaran agama permulaan.yaitu menghafal rukun Iman dan rukun Islam, belajar tuntunan sholat dan belajar “ membaca Alquran. Pelajaran agarna di langgar dimulai dengan membaca alquran. Mula-mula murid mempelajari abjad Arab, kemudian mengeja ayat-ayat Qur’an pertama dengan irama suara tertentu.

Pelajaran diberikan dengan sistem sekepala. Guru menyebutkan sesuatu dan murid menirunya. Yang dicita-citakan ialah dapat membaca Qur’an sampai tamat. Lamanya belajar tidak tentu; biasanya berlangsung kurang lebih satu tahun, tetapi kadang-kadang hanya diikuti selama beberapa bulan saja. Biasanya pelajaran diberikan pada pagi hari dan malam hari, berlangsung kira-kira dua jam lamanya.

Yang menjadi gurunya adalah seseorang yang sudah memiliki pengetahuan agama yang agak mendalam. Guru itu tetap dipandang sebagai seorang yang sakti. Murid-murid tidak boleh mengecam guru, mengecam guru dianggap berdosa.

Uang sekolah tidak dipungut, tergantung kepada kerelaan orang tua murid, boleh memberikan tanda mata berupa benda atau uang. Bahkan bagi orang tua yang miskin, anaknya dapat mengikuti pelajaran tanpa membayar. Bila seorang murid sudah menamatkan pelajarannya, dalam arti sudah dapat rnembaca Qur’an sampai tamat, maka diadakanlah selamatan, khataman namanya. dengan mengundang makan teman-temannya atau kerabat dekat di rurnah guru atau Langgar. Pada kesempatan ini murid yang telah khatam, mendemontrasikan kemampuannya membaca Alquran di depan para undangan dan murid (santri) yang belajar di langgar, berasal dari anak-anak maupun orang tua yang berada disekitar Langgar atau tetangga desa. Hubungan antara guru dan murid pada umumnya tetap berlangsung walaupun murid kemudian meneruskan pendidikan pada lembaga yang lebih tinggi di Madrasah atau Pesantren di desanya atau desa lain.


Sebagai lembaga sosial Langgar itu penting artinya. Anak-anak rakyat lambat laun menyadari menjadi anggota persekutuan besar, yakni persekutuan umat Islam.

b. Pesatren

Pengajaran yang lebih lanjut dan lebih mendalam diberikan di pesantren. lembaga pendidikan ini sebenarnya sudah ada sejak zaman Hindu Budha, kemudian dilanjutkan oleh para wali dan ulama Islam. Jadi pendidikan yang dilaksanakan oleh para wali mempergunakan cara-cara yang oleh para pandita Hindu telah dilaksanakan. Para Kiai (ulama Islam), didatangi oleh para murid/santri, biasanya para pemuda untuk berguru kepadanya. Para wali mempergunakan pula cara-cara yang telah dilakukan oleh para pandita dalam pesantren-pesantren. Para wali mempergunakan media yang sudah dikenai masyarakat sebelumnya, jadi ceritera Ramayana dan Mahabarata dalam berrtuk wayang untuk menyampaikan pelajarannya.

Perbedaan dalarn pelajaran pada pesantren Islam dengan pesantren Hindu dan Budha ialah dalam bahan pelajaran agama. Pesantren Islam mengajarkan agama Islam. Salah satu perbedaan lain, agama Islam lebih bersifat dernakratis karena tidak membeda-bedakan asal keturunan. Semua berhak dan bahkan wajib belajar agama agar menjadi manusia yang taqwa kepada Tuhan. Sedangkan pengajaran Hindu bersifat aristokratis. Artinya hanya sebagian dari anggota masyarakat, yaitu kasta Brahmana dan Kesatrya yang mendapat pendidikan.

Pada zaman Islam pendidikan merupakan suatu tuntutan agar semua muslim mendapatkan pengajaran. oleh sebab itulah maka pendidikan diselenggarakan di langgar-langgar, mesjid, surau (Minangkabau ) atau dl rangkang (Aceh). Pendidikan diselenggarakan secara amat sederhana yang merupakan pendidikan pendahuluan.

Di pesantren, murid-muridnya dinamakan santri, pada umumnya terdiri dari anak-anak yang lebih tua dan telah memiliki pengetahuan dasar yang mereka peroleh di langgar atau mesjid. Para santri yang biasanya berasal dari berbagai tempat, dikumpulkan dalam suatu ruangan yang disebut pondok (semacarn asrama). Mereka bergaul dengan suasana keagarnaan, saling tolong menolong bergotong royong dan kadang-kadang membantu menyelesaikan pekerjaan gurunya. Berdekatan dengan pondok berada mesjid dan rumah guru. Guru biasanya disebut ajengan atau kiyai.

Mata pelajaran yang diberikan di pesantren adalah ; (1) Ilmu Usuluddin yang membahas pokok-pokok ajaran kepercayaan, (2) Usul Fidh (alat penggali hukum dari Alquran dan Hadist), (3) Fiqh (cabang dari Usuluddin), (4) membaca dan menulis Arab.

Pesantren tidak rnemiliki kurikulum yang tertulis. Hal ini sangat ditentukan oleh kiyai yang memimpin pesantren tersebut. Jadi tidak ada tingkatan dalam pesantren, sehingga kita sulit menentukan apakah pesantren rendah, menengah atau tinggi, seperti disebutkan di atas sebagian besar mata pelajaran yang diberikan adalah agarna Islam. Tidak diberikan ilmu pengetahuan umum. Ini suatu kieanehan dalam pendidikan Islam, karena di Negara Arab sendiri antara pelajaran ilmu pengetahuan dan agama ada keseimbangan. Jadi rupanya pengaruh agama Hindu sangat besar sekali terhadap pesantren Islam. Pengaruh ini terlihat pula pada penghormatan terhadap guru yang sangat besar. Sehingga apa yang dikatakan oleh guru dianggap sebagai sesuatu kebenaran yang tidak boleh dibantah

Lamanya belajar di pesantren setiap santri tidak tentu, ada yang setahun tetapi ada juga yang sampai sepuluh tahun atau lebih, tergantung kepada kecepatan santri dalarn menerima pelajarannya.

Kegiatan santri di pesantren setiap harinya adalah sebagai berikut : Jam 04.00 mereka bangun kemudian sembayang subuh setelah selesai sembahyangi; mereka mulai belajar, kemudian bekerja membantu kiyai, misalnya; membersihkan halaman, berkebun, bekerja di sawah, dan sebagainya. Setelah itu sembahyang dhuhur dan makan siang. Sesudah makan siang semua beristirahat, kemudian dimulai lagi dengan pelajaran, dan diselingi dengan menghafal. Setelah sembahyang magrib atau isya dimulai lagi dengan pelajaran. Kepada santri yang telah dipandang tinggi tingkatan pelajarannya diberikan pelajaran dari berbagai kitab dengan sistim klasikal. Jam 21.00 mereka tidur. Piket malam biasanya mereka lakukan secara bergantian.




D. ZAMAN PENGARUH PORTUGIS DAN SPANYOL

Karena berkembangnya perdagangan, maka pada permulaan abad ke 16 datanglah ke Indonesia bangsa Eropah pertama yaitu bangsa Portugis, kemudian disusul oleh bangsa Spanyol. Waktu orang-orang Portugis datang ke Indonesia, selain untuk berdagang, mereka dibarengi oleh missionaries yang bertugas untuk menyebarkan agama Nasrani (Katolik) dikalangan penduduk Indonesia.

Salah seorang yang dianggap sebagai peletak batu pertama dari agama Katolik di Indonesia adalah Franciscus Xaverius berpendapat bahwa untuk mernperluas penyebaran agama Nasrani itu perlu sekali didirikan sekolah-sekolah. Pada tahun 1536 didirikanlah sebuah. Seminare di Ternate, yaitu sekolah agama Katolik bagi anak-anak orang terkemuka, selain pelajaran agama, diberikan juga, pelajaran membaca, menulis dan berhitung).

Di Solor juga didirikan semacam Seminare dengan jumlah jurnlah muridnya pada waktu itu sekitar 50 orang, di sekolah itu di ajarkan juga bahasa latin. Pendidikan yang lebih tinggi diberikan di Goa, pusat kekuasaan Portugis di Asia. Pemuda­ pemuda Indonesia yang cakap dikirimkan kesana untuk mendapatkan pendidikan. Kelak mereka dijadikan pembantu-pembantu Paderi

Pada tahun 1546 di Ambon sudah ada tujuh kampung yang penduduknya memeluk agama Katolik. Disana diselenggarakan pula pengajaran untuk rakyat yang bersifat umum.

Karena sering timbul pemberontakan-pemberontakan, terutama dari Sultan Ternate dan juga banyak peperangan yang harus dihadapi dengan orang-orang Spanyol, Inggeris dan Belanda, maka pada ahir abad ke 16 habislah kekuasaan Portugis di Indonesia. Ini berarti pula habisnya riwayat missi Katolik di daerah Maluku. Missi ini adalah missi Negara, artinya para missionaris mendapat jaminan hidup dari Negara. Sehingga jatuhnya Negara, mengakibatkan hilang nya tenaga missi itu, dengan demikian usaha-usaha pendidikan terpaksa harus dihentikan.


E. ZAMAN PENGARUH BELANDA

1. Zaman VOC ( Kompeni ) 1602 – 1799

Dengan berahirnya kekuasaan Portugis, maka timbullah kekuasaan baru, yaitu kekuasaan Belanda. Bangsa Belanda lah yang berhasil mengusir orang-orang Portugis dari Indonesia. Tujuan orang Belanda datang ke Indonesia mulanya untuk perdagangan saja. Kemudian mereka memutuskan untuk menyaingi orang Portugis yang menyebarkan agama katolik, di Maluku dan Nusa Tenggara. Bahkan dikabarkan bahwa orang Spanyol dan Portugis sudah mendirikan sekolah guru di Ternate, sekolah guru ini konon sekolah guru yang tertua di Asia (1536). Orang Belanda yang telah bersatu dalam badan perdagangan VOC, menganggap perlu menggantikan agama Katolik yang telah disebarkan orang Portugis itu dengan agamanya yaitu agama Protestan. adalah badan milik orang Belanda, yang memejuk agama Protestan)

Untuk menyebarkan agama (Protestan tersebut maka pada tahun 1617 VOC mendirikan sekolah. Sekolah itu pertama-tama ditujukan untuk mereka yang telah beragama Kristen (Protestan). Sekolah-sekolah itu terdapat di Ambon, Ternate, Menado, Jakarta (Batavia), Bawean, Timor, Maluku dan Nusa Tenggara Timur. Di Pulau Jawa sekolah-sekolah hanya terbatas di kota dan pantai untuk menampung pegawai VOC yang beragama Kristen. Hubungan antara kompeni dengan rakyat di Pulau jawa tidak serapat di Maluku, karena : (1). Rakyat di Pulau Jawa sedikit sekali menghasilkan rempah-rempah untuk keperluan pasar dunia, (2) Rakyat di Pulau Jawa tidak terkena pengaruh Portugis. Agama Katolik tidak masuk ke Pulau Jawa, karena, dua alasan itu lah sehingga di Pulau Jawa tidak ada susunan persekolahan dan gereja yang seluas di Maluku. Kalau ada juga pemeluk-pemeluk agama Nasrani, hanya dijumpai pada beberapa kota pelabuhan saja. Yang terbanyak pemeluknya di Batavia (Jakarta).

Setelah kerajaan Belanda mengahiri wewenang VOC sebagai wakil mahkota dan pemerintahannya di Nusantara (Hindia Timur).

2. Periode 1801 - 1900

Sejak pertengahan abad ke 19 liberalisme dan aufklarung dari Eropah telah mempengaruhi politik Belanda di Indonesia. Gubernur Jenderal Daendels, meminta agar diselenggarakan pengajaran untuk memperkenalkan kesusilaan, adat istiadat, hukum dan agama kepada orang jawa. Kemudian pada tahun 1848 barulah dimulai anggaran pendidikan sebanyak f 25.000,- untuk semua orang-orang Indonesia.

Sambil mengijinkan sekolah swasta, pemerintah mendirikan sekolah rendah, kelas dua selama 5 tahun untuk rakyat dengan pelajaran terbatas seperti : Bahasa Melayu, Bahasa Ibu, Berhitung, Menulis, Ilmu Bumi, Pengukuran Tanah dan Latihan Kerja Kantor. Bentuk baru dalam lapangan pengajaran terjadi pada pemerintahan Daedels menaruh perhatian pada pengajaran rakyat hal ini dapat dibuktikan seperti :

a. Pada tahun 1808 ia memberi perintah pada bupati-bupati di Pulau Jawa agar pengajaran tersebar di kalangan rakyat dan iiap-tiap distrik mempunyai sekolah. Perintah ini tak sempat dijalankan, karena 3 tahun kemudian pemerintah jatuh ketangan orang Inggeris. Meskipun demikian perintah itu mempunyai arti yang penting. Dengan adanya perintah itu, pemerintah untuk pertama kali mengakui, " bahwa sudah menjadi tugasnya untuk memberikan pengajaran pada rakyat. Jadi pengajaran itu tidak hanya terbatas pada kelompok-kelompok tertentu saja, seperti kepada orang Eropah dan orang Indonesia yang memeluk agama Nasrani.

b. Tahun 1809 untuk perlama kali diselenggarakan pendidikan Bidan, yang rnerupakan bagian dari pada usaha pemeliharaan kesehatan rakyat. Yang menjadi gurunya adalah para dokter yang berada di Batavia. Bahasa pengantarnya adalah bahasa Melayu

c. Sebagai usahanya untuk " memajukan tari-tarian rakyat " dan untuk menjauhkan bangsa Indonesia dari semangat kepahlawanan, maka pada tahun 1809 di Cerebon didirikan sekolah Ronggeng. Sekolah itu mcnjadi tanggungan Sultan. Di sekolah itu dididik, terutama sekali anak-anak perempuan yang tak mampu dan usianya belum 12 tahun. Uang sekolah tidak dipungut, kecuali bagi anak-anak orang kaya. Lamanya belajar 4 tahun. Yang diajarkan selain menari dan menyanyi, juga membaca dan menulis. Pada hakekatnya sekolah itu lebih merupakan usaha untuk mer~demoral isasikan pemuda-pemuda Indonesia.

3. Masa sesudah 1900 sampai berakhirnya pemerintahan Belanda

Sejak akhir abad ke 19 di Nederland ikut berkembang ide demokratis yang menghendaki perluasan pendidikan dan atau pemberian subsidi pada perguruan swasta yang sudah ada. Muhammadiyah yang tak pernah meminta subsidi akhirnya juga diberi dana subsidi

Menteri Pengajaran dan Agama yang tadinya berupaya seorang diri meluaskan Pengajaran bahasa belanda dan pendidikan wanita kembali ikut mendapat semangat baru. RA. Kartini dan orang Belanda, banyak yang mulai melihat bahwa sekolah kejuruan dapat memajukan kesejahtraan sosial. Maka pemerintah telah mengadakan dua macam pendidikan dasar yaitu:
a. Sekolah standar untuk bumi putera, yakni sekolah kelas dua
b. Sekolah desa (3 tahun) untuk rakyat

Selain itu pada tahun 1914 juga didirikan sekolah dasar HIS sebagai bentuk sekolah kelas satu untuk bumi putera. Kebanyakannya dari semua itu adalah politik balas budi Belanda kepada negeri jajahannya. Tetapi efeknya terhadap perluasan pendidikan belum ada hubungannya dengan nasionalisme, karena yang memanfaatkannya terutama hanya lapisan atas bangsa kita.

 

 

F. ZAMAN KEMERDEKAAN

Proklamasi Kemerdekaan menimbulkan hidup baru disegala lapangan termasuk Iapangan pendidikan. Sebagai modal dan peduman pertarna bagi rakyat dan pemerintah di bidang pendidikan dipergunakanlah " Rencana Usaha Pendidikan Pengajaran " yang telah dipersiapkan pada hari-hari terakhir penjajahan Jepang itu. Dengan segera Menteri PP dan K yang pertama Ki Hajar Dewantara mengeluarkan instruksi umum yang memerintahkan kepada semua kapala sekolah dan guru-guru :
1. Mengibarkan Sang Merah Putih tiap-tiap hari dihalaman sekolah
2. Melagukan lagu kebangsaan " Indonesia Raya "
3. Menghentikan Pengibaran Bendera Jepang dan rnenghapuskan “Kimigajo” (lagu kebangsaan Jepang)
4. Menghapuskan pelajaran bahasa Jepang, serta segala upacara yang berasal dari pemerintahan Balatentara Jepang
5. Memberi semangat kebangsaan kepada semua murid-murid

Selain "Rencana usaha pendidikan/pengajaran " dan " Intruksi Umum " dari Menteri PP dan K yang pertama, Pemerintah dan rakyat mempergunakan juga UUD 1945 sebagai pedoman di lapangan pendidikan.

Menjelang lahirnya Undang-Undang Pokok Pendidikan dan Pengajaran, maka pada tahun 1946 Menteri PP dan K (Mr. Soewandi) membentuk “ Panitia Penyelidik Pendidikan dan Pengajaran” yang diketuai oleh Ki Hajar Dewantara.

Pada tanggal 4 s/d 7 Maret 1947 di Solo diadakan " Kongres Pendidikan Indonesia ". Dibawah pimpinan Prof. Sunarya Kalapaking dengan rnaksud meninjau kembali berbagai masalah pendidikan/pengajaran.

Pada tahun 1948 Menteri PP dan K (Mr. Ali Sastroamidjojo) rnembentuk "Panitia Pembentukan Rencana Undang-Undang Pokok Pendidikan dan Pengajaran" yang diketuai oleh Ki Hajar Dewantara, yang diberi tugas untuk menyusun Rencana Undang-Undang Pokok Pendidikan dan Pengajaran di sekolah.

Pada tahun 1949 diadakan Kongres Pendidikan yang kedua di Jogyakarta. Masalah-masalah yang harus mendapatkan pemecahan berarti ia terutama sekali mengenai dasar­dasar Pendidikan, hubungan antara pendidikan dan kebudayaan, dll

Pada Tahun 1950 lahirlah Undang-Undang tentang Dasar-Dasar Pendidikan dan Pengajaran di SekoIah untuk seluruh Indonesia, yaitu Undang-Undang No 4 tahun 1950 dengan nama Undang-Undang tentang Dasar-Dasar Pendidikan dan Pengajaran di Sekolah selanjutnya disingkat menjadi UUPP, yang berisi 17 bab dan 30 pasal. Pasal 3 tentang tujuan pendidikan dan pengajaran berbunyi demikian : " Tujuan pendidikan dan pengajaran ialah membentu manusia susila yang cakap dan warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab tentang kesejahteraan masyarakat dan tanah air. Sedangkan Bab III, Pasal 4, " Tentang Dasar-Dasar Pendidikan dan Pengajaran " berbunyi sbb : Pendidikan dari pengajaran berdasarkan atas azas-azas yang termaktub dalam " Pancasila " Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia dan atas tebudayaan kebangsaan Indonesia.

Dari kedua pasal tersebut jelaslah tugas apa yang diletakkan di atas bahu kaum guru, sebagai pendidik nasional. Kedua pasal itu menegaskan, harus kemana kita membawa anak-­anak Indonesia itu dan berdasarkan apa pendidikan dan pengajaran harus kita berikan di Indonesia pada zaman kemerdekaan ini.

Kebijakan Link and Match :

Untuk mendukung program pembangunan dibidang Pendidikan dikembangkan kebijakan link and match yaitu konsep keterkaitan dan kepadanan yang dijadikan strategi operasional dalam meningkatkan relevansi Pendidikan. Arti kansep ini adalah (Link and Match, 1993 :
l. Link : berarti pendidikan memiliki kaitan fungsional dengan kebutuhan pasar.
2. Match : berarti lulusan yang mampu memenuhi tuntutan para pemakai baik jenis, jumlah maupun mutu yang dipersyaratkan.

Disamping kebijakan di atas, inovasi-inovasi penciidikan juga sudah dilaksanakan, untuk mencapai sasaran pendidikan yang dinginkan. Ternyata inovasi-inovasi itu gagal karena hanya mengejar target kuantitatif atau pemerataan pendidikan saja, disamping karena heterogenitas budaya dan luasnya Negara Indonesia. Oleh karena itu (Tilaar, 1996) mengharapakan, inovasi pendidikan bersumber dari hasil-hasil penelitian di Indonesia.

Sernentara itu Alisyahbana (1990) rnengemukakan ada 3 macam pesimisme dikalangan para ahli pendidikan, yaitu :
a. Pemerintah seolah-olah belum memiliki political will yang kuat untuk memperbaiki pendidikan.
b. Orang Indonesia memiliki budaya begitu lamban melakukan transformasi social, yang sangat perlu untuk mengadakan adaptasi terhadap dunia yang berubah dengan cepat
c. Seolah-olah sulit rnuncul tokoh pcrnikir yang berani mcnyusun dan memperjuangkan konsep-konsep yang bertalian dengan pendidikan nasional yang mungkin tidak sejalan dengan keinginan pai-a birokrat yang berkuasa.

Masalah lain yang tertulis dalam Deklarasi Konvensi Nasional Pendidikan 11 Tahun 1992 mengatakan :
1. Realisasi tanggung jawab bersama antara keluarga, masyarakat dan pemerintah belum terwujud secara menyeluruh dan bahkan belum dihayati sepenuhnya oleh semua pihak.
2. Diperlukan political will dan dukungan biaya yang memadai untuk pendidikan daerah terpencil
3. Penanaman nilai-nilai budaya maupun agama tidak cukup melalui bidang studi saja.

Salah satu dampak dari hasil pembangunan yang tidak seimbang, adalah :
¨ Munculnya kenakalan dan perkelahian anak-anak muda disana sini
¨ Maraknya kolusi diberbagai kalangan, ditulis Baharuddin Lopa (1996)
¨ Tingginya tingkat korupsi menurut laporan Fortune tentang korupsi di Asia dan survey internasional TIN (Jawa Post 14-8 1985 dan 10-2-1996).


Namun bukan berarti pembangunan Indonesia sudah gagal, masih ada segi-segi keberhasilan pembangunan yang menonjol, seperti :
a. Kesadaran rnasyarakat tentang pentingnya melaksanakarn ajaran agama sudah meningkat dengan pesat
b. Persatuan dan kesatuan bangsa masih terkendali


G. MASA REFORMASI

Pada masa reformasi, sistem pendidikan mulai berubah, yang didahului oleh perubahan Undang-Undang Pendidikan. UU ini menginginkan sistem pendidikan sentralisasi berubah menjadi desentralisasi. Instrumen-instrumen untuk mewujudkan desentralisasi pendidikan yaitu MBS (Manajemen Berbasis Sekolah), Life Skills (lima keterampilan hidup) dan TQM (Total Quality Management). Pemerintah juga menciptakan kelompok-kelompok masyarakat yang independen untuk membantu pendidikan agar mampu mandiri seperti Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah.

Di samping itu pemerintah juga mengubah istilah pendidikan sekolah dan pendidikan luar sekolah menjadi pendidikan jalur formal, nonformal dan informal. Pendidikan nonformal sangat berperan dalam mengembangkan keterampilan warga belajar untuk mampu bekerja di masyarakat sedangkan pendidikan informal di masyarakat dan dalam keluarga sangat berperan dalam mengembangkan afeksi atau kepribadian, sikap,moral dan mental anak-anak.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar